background img
-->

The New Stuff

Dalam praktek aktivitas konstruksi di Indonesia peristiwa/Incident kecelakan kerja biasanya kerap menyebabkan korban jiwa khusunya bagi pihak pelaksana yg tidak memerhatikan segi keselamatan bagi pekerjanya di lapangan. Lihat kompleksitas aktivitas satu proyek konstruksi yang makin tinggi maka segi keselamatan kerja jadi hal yang pantas di perhatikan bahkan juga mesti jadi prioritas paling utama dalam sistem proses konstruksi. Telah sepatutnya pihak penyelenggara konstruksi lebih memerhatikan segi keselamatan mengingat ada ketentuan Undang-Undang yang sudah mengatur tentang proses K-3 dalam industri konstruksi di Indonesia. Pada umumnya penyebabnya kecelakann kerja bisa dkategorikan jadi dua keadaan yakni :



1. Perilaku Tak Aman (Unsafe-Act)
Tingkah laku tak aman pada intinya adalah satu diantara aspek yang bisa memicuh munculnya kecelakan kerja yang biasanya dikarenakan dari aspek internal pekerja di lapangan. Pada umumnya tingkah laku tak aman bisa digolongkan jadi sebagian aspek yakni :


  • Ciri-ciriistik Pekerja : Hal semacam ini menyangkut karakter dan ciri-ciri dari tiap-tiap pribadi pekerja yang bisa di pengaruhi oleh pengalaman sepanjang bekerja, umur, posisi/jabatan, tingkat ketrampilan/skill, keadaan fisik, asal daerah, rutinitas/behaviour, umpamanya rutinitas bermain ponsel dalam sistem konstruksi, merokok, bercakap, tak menggunakan alat pelengkap keamanan, melompat, berlari-lari dll.


  • Ketersedianya dan Ketertipan Dalam Memakai Alat Pelindung Diri (APD) : Dalam soal ini sebagai pihak pelaksana konstruksi sebaiknya mempersiapkan alat-alat pelindung diri bagi beberapa pekerjanya sepanjang sistem konstruksi berjalan. seperti : Helmet, sepatu safety, kaca mata, masker, safety belt, rompi, gloves, kotak K-3, dll. Sebagai pihak pelaksana konstruksi pastinya kebiasaan inspeksi dan breafing pada pemakaian APD adalah keharusan paling utama yang perlu kerap dikerjakan manfaat menertipkan kedisiplinan dalam pemakaian APD bagi beberapa pekerjanya di lapangan.


2. Keadaan Tak Aman (Unsafe -Condition)
Aspek selanjutnya yakni keadaan dan unsur-unsur yang ada dalam ruang kerja (Work Site Job) yang bisa jadi pemicuh munculnya kecelakaan kerja, umpamanya :


  • Keadaan Jalan masuk proyek (Access Road Project), keadaan jalan masuk satu proyek yg tidak mensupport seperti becek, amblas dan kotor sudah pasti bisa punya potensi menyebabkan terjadinya kecelakana dalam pengerjaannya umpamanya punya potensi mengakibatkan kendaraan proyek terguling, pekerja terjatuh, dll.


  • Keadaan instalasi listrik dan mesin yang berantakan, hal ini dapat juga punya potensi menyebabkan terjadinya kecelakana bagi beberapa pekerja yang ada di sekelilingnya, umpamanya keadaan instalasi listrik proyek yang berantakan dan digenangi oleh air pastinya bisa membahayakan bagi beberapa pekerja yang melewati ruang itu.


  • Tak menempatkan rambu pemberitahuan dan peringatan di sekitaran ruang proyek, dengan menempatkan rambu pemberitahuan dan peringatan dalam proses konstruksi pastinya bisa menolong dalam memberi pentunjuk, arahan ataupun peringatan pada keadaan beresiko di sekitaran ruang proyek, umpamanya rambu peringatan pada bahaya terjatuh dengan menempatkan safety line, rambu pemberitahuan pada pemakaian APD sepanjang ada dalam ruang konstruksi, rambu peringatan pada tempat galian, rambu peringatan bahaya listrik tegangan tinggi, rambu peringatan pada kegiatan perlengkapan kosntruksi. dll. Pastinya hal semacam ini tak diinginkan hanya jadi kriteria administrasi yang hanya di buat dan tak dikerjakan sepanjang sistem konstruksi. 

  • Keadaan penerangan yg tidak mencukupi, pekerjaan proyek konstruksi juga memerlukan penerangan yang cukup sepanjang pekerjaan berjalan misalnya pada pekerjaan galian bawah tanah dan pekerjaan yang dikerjakan saat malam hari. Jika sarana penerangan yang didapatkan tak mencukupi pastinya bisa menyebabkan resiko terjadinya kecelakan kerja.
  • Keadaan pengudaraan yg tidak mencukupi, sama seperti dengan keadaan pencahayaan, pengudaraan juga adalah hal yg tidak saat penting dalam sistem pelaksanan proyek konstruksi umpamanya pada pekerjaan yang dikerjakan dibawah tanah atau diruangan yang sempit karena mesti memerlukan system aliran hawa yang ideal, hal semacam ini mesti jadi perhatian bagi pihak pelaksana hingga tak menyebabkan terjadinya hal yg tidak dikehendaki sepanjang proyek berjalan.
  • Keadaan perlengkapan konstruksi yg tidak layak gunakan, keadaan demikian pula mempunyai tingkat resiko dalam menyebabkan kecelakanan kerja, umpamanya keadaan perlengkapan Tower Crane yg tidak layak gunakan atau rusak pastinya bisa berisiko menyebabkan peristiwa yang fatal bagi beberapa pekerja ataupun orang-orang di sekelilingnya hal ini dapat berlaku pada perlengkapan konstruksi yang lain.
  • Pemakaian jenis material konstruksi yang beresiko, tak semuanya material konstruksi bisa dengan aman dipakai dalam proses kosntruksi, terdapat banyak material atau bahan yang memerlukan perlakuan spesial dalam pemakaiannya ataupun material yang beresiko dalam pemakaiannya umpamanya material yang memiliki bahan asbes begitu beresiko bagi kesehatan pernapasan pekerja, bahan peledak/detonator pada pekerjaan peledakan tebing, dan pemakaian beberapa bahan kimia yang lain yang beresiko sepanjang sistem konstruksi.
  • Penentuan cara kerja yang tidak cocok prosedur, terkadang dalam proses konstruksi penentuan cara kerja dikerjakan berdasar pada rutinitas, pastinya jika rutinitas yang sudah ikuti prosedur tak menyebabkan resiko, namun jika rutinitas yang dikerjakan tidak cocok dengan standard yang berlaku maka bisa punya potensi menyebabkan resiko terjadinya kecelakaan kerja, umpamanya prosedur pengoperasian perlengkapan konstruksi yg tidak safety maka akan membahayakan keselamatan pekerja yang ada di sekelilingnya.
  • Pada dasarnya ada jalinan logis yang sama-sama terkait pada sumber daya material, man power dan perlengkapan konstruksi (Equipment) dalam aplikasi K-3, pada umumnya jalinan material dan perlengkapan akan beresiko pada efek lingkungan di sekelilingnya, sedang jalinan pada material dengan man power akan beresiko pada kesehatan pekerja dari pemakaian material sepanjang kegiatan konstruksi berjalan, dan jalinan pada perlengkapan dengan man power akan beresiko pada segi keselamatan pekerja pada perlengkapan yang digunakana sepanjang pekerjaan konstruksi. 

Mengenai beberapa hal yang bisa jadi input dalam mereduksi tingkat resiko terjadinya kecelakan kerja dalam industri konstruksi diantaranya :

  • Dengan lakukan training dan breafing dengan cara berkala bagi beberapa staff dan pekerja konstruksi sebelumnya aktivitas proyek mulai dikerjakan, hingga bisa jadi pembekalan yang membuat satu rutinitas dan kesadaran dalam menggerakkan aktifitasnya pada pentingnya aplikasi K-3.
  • Dengan memberi reward dan punishment pada pekerja konstruksi, yakni dengan memberi penghargaan pada staff dan pekerja yang taat dan disiplin pada aplikasi K-3 sepanjang proyek berjalan dan memnberikan sanksi yang tegas pada staff dan pekerja yang lupa dalam melakukan prosedur K-3 sepanjang aktivitas proyek berjalan, bisa berbentuk potongan sallary ataupun jenis sanksi administrasi yang lain yang dikira rasional.
  • Dengan kerap lakukan inspeksi dadakan sepanjang proyek berjalan dengan membuat satu divisi spesial yang bisa menilainya dan mengevaluasi masalah K-3 pada proyek konstruksi, baik berbentuk inspeksi pada kelengkapan ketersediaan APD, kedisiplinan pekerja dalam memakai APD, keadaan ruang proyek, keadaan perlengkapan, cara kerja, material konstruksi, pencahayaan, pengudaraan dan segi yang lain yang dikira bisa punya potensi menyebabkan kecelakaan kerja di tempat proyek.
  • Bagi pihak pelaksana konstruksi (kontraktor) bisa dengan memberi jaminan sosial bagi tiap-tiap staff dan pekerjanya yakni berbentuk jaminan kesehatan dan keselamatan kerja sesuai sama amanat UUD yang sudah ditetapkan, supaya bisa kurangi beban saat berlangsung satu incident kecelakaan dalam sistem proses konstruksi.

Dengan keterangan tentang aplikasi system keselamatan dan kesehatan kerja (SMK-3) diinginkan bisa jadi input yang berguna bagi pihak pelaksana ataupun pihak-pihak yang bertugas dalam aktivitas konstruksi supaya bisa menghimpit tingkat kecelakaan kerja yang bisa menyebabkan korban jiwa dan harta benda yang akan datang khusunya di Indonesia. Terima Kasih.  

Penerapan SMK3 Proyek Konstruksi

Dalam praktek aktivitas konstruksi di Indonesia peristiwa/Incident kecelakan kerja biasanya kerap menyebabkan korban jiwa khusunya bagi pihak pelaksana yg tidak memerhatikan segi keselamatan bagi pekerjanya di lapangan. Lihat kompleksitas aktivitas satu proyek konstruksi yang makin tinggi maka segi keselamatan kerja jadi hal yang pantas di perhatikan bahkan juga mesti jadi prioritas paling utama dalam sistem proses konstruksi. Telah sepatutnya pihak penyelenggara konstruksi lebih memerhatikan segi keselamatan mengingat ada ketentuan Undang-Undang yang sudah mengatur tentang proses K-3 dalam industri konstruksi di Indonesia. Pada umumnya penyebabnya kecelakann kerja bisa dkategorikan jadi dua keadaan yakni :



1. Perilaku Tak Aman (Unsafe-Act)
Tingkah laku tak aman pada intinya adalah satu diantara aspek yang bisa memicuh munculnya kecelakan kerja yang biasanya dikarenakan dari aspek internal pekerja di lapangan. Pada umumnya tingkah laku tak aman bisa digolongkan jadi sebagian aspek yakni :


  • Ciri-ciriistik Pekerja : Hal semacam ini menyangkut karakter dan ciri-ciri dari tiap-tiap pribadi pekerja yang bisa di pengaruhi oleh pengalaman sepanjang bekerja, umur, posisi/jabatan, tingkat ketrampilan/skill, keadaan fisik, asal daerah, rutinitas/behaviour, umpamanya rutinitas bermain ponsel dalam sistem konstruksi, merokok, bercakap, tak menggunakan alat pelengkap keamanan, melompat, berlari-lari dll.


  • Ketersedianya dan Ketertipan Dalam Memakai Alat Pelindung Diri (APD) : Dalam soal ini sebagai pihak pelaksana konstruksi sebaiknya mempersiapkan alat-alat pelindung diri bagi beberapa pekerjanya sepanjang sistem konstruksi berjalan. seperti : Helmet, sepatu safety, kaca mata, masker, safety belt, rompi, gloves, kotak K-3, dll. Sebagai pihak pelaksana konstruksi pastinya kebiasaan inspeksi dan breafing pada pemakaian APD adalah keharusan paling utama yang perlu kerap dikerjakan manfaat menertipkan kedisiplinan dalam pemakaian APD bagi beberapa pekerjanya di lapangan.


2. Keadaan Tak Aman (Unsafe -Condition)
Aspek selanjutnya yakni keadaan dan unsur-unsur yang ada dalam ruang kerja (Work Site Job) yang bisa jadi pemicuh munculnya kecelakaan kerja, umpamanya :


  • Keadaan Jalan masuk proyek (Access Road Project), keadaan jalan masuk satu proyek yg tidak mensupport seperti becek, amblas dan kotor sudah pasti bisa punya potensi menyebabkan terjadinya kecelakana dalam pengerjaannya umpamanya punya potensi mengakibatkan kendaraan proyek terguling, pekerja terjatuh, dll.


  • Keadaan instalasi listrik dan mesin yang berantakan, hal ini dapat juga punya potensi menyebabkan terjadinya kecelakana bagi beberapa pekerja yang ada di sekelilingnya, umpamanya keadaan instalasi listrik proyek yang berantakan dan digenangi oleh air pastinya bisa membahayakan bagi beberapa pekerja yang melewati ruang itu.


  • Tak menempatkan rambu pemberitahuan dan peringatan di sekitaran ruang proyek, dengan menempatkan rambu pemberitahuan dan peringatan dalam proses konstruksi pastinya bisa menolong dalam memberi pentunjuk, arahan ataupun peringatan pada keadaan beresiko di sekitaran ruang proyek, umpamanya rambu peringatan pada bahaya terjatuh dengan menempatkan safety line, rambu pemberitahuan pada pemakaian APD sepanjang ada dalam ruang konstruksi, rambu peringatan pada tempat galian, rambu peringatan bahaya listrik tegangan tinggi, rambu peringatan pada kegiatan perlengkapan kosntruksi. dll. Pastinya hal semacam ini tak diinginkan hanya jadi kriteria administrasi yang hanya di buat dan tak dikerjakan sepanjang sistem konstruksi. 

  • Keadaan penerangan yg tidak mencukupi, pekerjaan proyek konstruksi juga memerlukan penerangan yang cukup sepanjang pekerjaan berjalan misalnya pada pekerjaan galian bawah tanah dan pekerjaan yang dikerjakan saat malam hari. Jika sarana penerangan yang didapatkan tak mencukupi pastinya bisa menyebabkan resiko terjadinya kecelakan kerja.
  • Keadaan pengudaraan yg tidak mencukupi, sama seperti dengan keadaan pencahayaan, pengudaraan juga adalah hal yg tidak saat penting dalam sistem pelaksanan proyek konstruksi umpamanya pada pekerjaan yang dikerjakan dibawah tanah atau diruangan yang sempit karena mesti memerlukan system aliran hawa yang ideal, hal semacam ini mesti jadi perhatian bagi pihak pelaksana hingga tak menyebabkan terjadinya hal yg tidak dikehendaki sepanjang proyek berjalan.
  • Keadaan perlengkapan konstruksi yg tidak layak gunakan, keadaan demikian pula mempunyai tingkat resiko dalam menyebabkan kecelakanan kerja, umpamanya keadaan perlengkapan Tower Crane yg tidak layak gunakan atau rusak pastinya bisa berisiko menyebabkan peristiwa yang fatal bagi beberapa pekerja ataupun orang-orang di sekelilingnya hal ini dapat berlaku pada perlengkapan konstruksi yang lain.
  • Pemakaian jenis material konstruksi yang beresiko, tak semuanya material konstruksi bisa dengan aman dipakai dalam proses kosntruksi, terdapat banyak material atau bahan yang memerlukan perlakuan spesial dalam pemakaiannya ataupun material yang beresiko dalam pemakaiannya umpamanya material yang memiliki bahan asbes begitu beresiko bagi kesehatan pernapasan pekerja, bahan peledak/detonator pada pekerjaan peledakan tebing, dan pemakaian beberapa bahan kimia yang lain yang beresiko sepanjang sistem konstruksi.
  • Penentuan cara kerja yang tidak cocok prosedur, terkadang dalam proses konstruksi penentuan cara kerja dikerjakan berdasar pada rutinitas, pastinya jika rutinitas yang sudah ikuti prosedur tak menyebabkan resiko, namun jika rutinitas yang dikerjakan tidak cocok dengan standard yang berlaku maka bisa punya potensi menyebabkan resiko terjadinya kecelakaan kerja, umpamanya prosedur pengoperasian perlengkapan konstruksi yg tidak safety maka akan membahayakan keselamatan pekerja yang ada di sekelilingnya.
  • Pada dasarnya ada jalinan logis yang sama-sama terkait pada sumber daya material, man power dan perlengkapan konstruksi (Equipment) dalam aplikasi K-3, pada umumnya jalinan material dan perlengkapan akan beresiko pada efek lingkungan di sekelilingnya, sedang jalinan pada material dengan man power akan beresiko pada kesehatan pekerja dari pemakaian material sepanjang kegiatan konstruksi berjalan, dan jalinan pada perlengkapan dengan man power akan beresiko pada segi keselamatan pekerja pada perlengkapan yang digunakana sepanjang pekerjaan konstruksi. 

Mengenai beberapa hal yang bisa jadi input dalam mereduksi tingkat resiko terjadinya kecelakan kerja dalam industri konstruksi diantaranya :

  • Dengan lakukan training dan breafing dengan cara berkala bagi beberapa staff dan pekerja konstruksi sebelumnya aktivitas proyek mulai dikerjakan, hingga bisa jadi pembekalan yang membuat satu rutinitas dan kesadaran dalam menggerakkan aktifitasnya pada pentingnya aplikasi K-3.
  • Dengan memberi reward dan punishment pada pekerja konstruksi, yakni dengan memberi penghargaan pada staff dan pekerja yang taat dan disiplin pada aplikasi K-3 sepanjang proyek berjalan dan memnberikan sanksi yang tegas pada staff dan pekerja yang lupa dalam melakukan prosedur K-3 sepanjang aktivitas proyek berjalan, bisa berbentuk potongan sallary ataupun jenis sanksi administrasi yang lain yang dikira rasional.
  • Dengan kerap lakukan inspeksi dadakan sepanjang proyek berjalan dengan membuat satu divisi spesial yang bisa menilainya dan mengevaluasi masalah K-3 pada proyek konstruksi, baik berbentuk inspeksi pada kelengkapan ketersediaan APD, kedisiplinan pekerja dalam memakai APD, keadaan ruang proyek, keadaan perlengkapan, cara kerja, material konstruksi, pencahayaan, pengudaraan dan segi yang lain yang dikira bisa punya potensi menyebabkan kecelakaan kerja di tempat proyek.
  • Bagi pihak pelaksana konstruksi (kontraktor) bisa dengan memberi jaminan sosial bagi tiap-tiap staff dan pekerjanya yakni berbentuk jaminan kesehatan dan keselamatan kerja sesuai sama amanat UUD yang sudah ditetapkan, supaya bisa kurangi beban saat berlangsung satu incident kecelakaan dalam sistem proses konstruksi.

Dengan keterangan tentang aplikasi system keselamatan dan kesehatan kerja (SMK-3) diinginkan bisa jadi input yang berguna bagi pihak pelaksana ataupun pihak-pihak yang bertugas dalam aktivitas konstruksi supaya bisa menghimpit tingkat kecelakaan kerja yang bisa menyebabkan korban jiwa dan harta benda yang akan datang khusunya di Indonesia. Terima Kasih.  

Silika yaitu kombinasi mineral yang terbagi dalam satu atom Silikon (Si) dan dua atom oksigen (O).
Oksigen (O2) adalah elemen yang paling banyak didapati dipermukaan bumi ini sedang Silikon (Si) adalah elemen nomer dua paling banyak di permukaan bumi ini, dengan jumlah yang begitu banyak di permukaan bumi ini jadikan silika umum didapati dimana-mana.
Jika Silika tersusun dengan jenis yang sama akan membuat Kristal Silika (Crystalyne Silica), dengan nama yang tidak sama seperti Quartz, cristobalite, tridymite, dan lain-lain.



SILIKOSIS

Seseorang yang bekerja dengan debu silika bisa terkena penyakit yang dimaksud silikosis. Silikosis bisa dihindari tetapi jika sudah terkena penyakit itu tidak bisa sembuh.

Ukuran partikel (debu) yang masuk kedalam paru-paru akan memastikan letak penempelan atau ingindapan partikel itu sesuai sama ukuran seperti berikut :
a. Partikel yang memiliki ukuran kurang dari 5 mikron akan tertahan di saluran nafas bagian atas,.
b. Partikel memiliki ukuran 3 hingga 5 mikron akan tertahan pada saluran pernafasan bagian tengah.
c. Partikel yang memiliki ukuran lebih kecil, 1 hingga 3 mikron, akan masuk kedalam kantung hawa paru-paru, melekat pada alveoli.
d. Partikel yang lebih kecil lagi, kurang dari 1 mikron, akan turut keluar saat nafas dihembuskan

Pekerja yang memiliki resiko terkena debu silika yaitu untuk kegiatan sebegai tersebut :
Manufaktur :
• Metal casting
• Glass products
• Keramik, tanah liat, dan tembikar
• Material Aspal/paving
• Cut stone and stone products
• Produksi cat dan karet

Konstruksi
• Pengeboran, Pemecahan, pemotongan Batu Alam
• Sand blasting
• Demolisi concrete

Silikosis berlangsung saat bernafas, debu silika dengan ukuran partikel yang begitu kecil masuk dalam dan terjebak dalam paru-paru yang menyebabkan rusaknya jaringan badan, yang menyebabkan jaringan paru paru luka dari ukuran kecil jadi bulat yang di kenal dengan nodule, semaikn lama nodule akan tumbuh makin besar dan banyak yang menyebabkan kita susah bernafas.

Tanda-tanda silikosis tampak dalam periode waktu 5 ~ 10 tahun
Pekerja terkena debu silika dalam jumlah tengah Akut

UPAYA PENCEGAHAN SILIKOSIS
Penyakit Silikosis tidak bisa sembuh, namun bisa dihindari dengan lakukan usaha sebagai
tersebut :

Subtitusi
Ubah material lain yg tidak memiliki kandungan kristalin silika yaitu cara paling baik untuk menyingkirkan bahaya

Dust Containment system
Cara lain untuk menyingkirkan bahaya yaitu dengan menempatkan system penampung debu seperti bag filter, dust collector, dan lain-lain.

Cara Basah
Untuk pekerjaan pemotongan brick/batu tahan api yang bisa menyebabkan debu silika pakai dengan cara basah, basahi cutting wheel dan media yang dipotong dengan air untuk kurangi paparan debu di ruang kerja.

Ventilasi
Gunakan local exhaust ventilation supaya ruang kerja terlepas dari paparan debu

Alat Pelindung Diri
Alat pelindung diri seperti respirator, sesungguhnya tak menyingkirkan bahaya namun hanya melindungi pekerja dari paparan debu silika, yakinkan APD yang dipakai telah seusuai dengan paparan debu silika yang ada dan cara memakainya mesti sesuai sama panduan pemasangannya. Respirator, seragam kerja, helm safety, sepatu safety, kaca mata safety adalah pelindung yang wajib di gunakan sebelum memulai pekerjaan.

Pengukuran Ruang Kerja
Pengukuran ruang kerja yaitu cara untuk mengevaluasi paparan debu di ruang kerja yang bisa dipakai sebagai tips untuk memastikan tindak lanjut perbaikan yang perlu dikerjakan, termasuk juga kontrol kesehatan pada pekerja yang terpapar

Pemerikasaan Kesehatan Berkala
Kerjakan pemerikasaan kesehatan berkala spesial untuk pekerja yang terkena debu di ruang kerjanya, jika ada tanda-tanda silicosis perputaran pekerja tersebut di ruang kerja yang memiliki kandungan debu silika sebagai usaha mencegah penyakit akibat kerja.

Personal Higiene
Sebagai usaha mencegah silicosis yang masuk lewat mulut dan kulit, bersihkan tangan dengan bersih sebelumnya makan dan minum, janganlah merokok di ruang yang ada paparan debu silika.

Sosialisasi
Kerjakan sosialisasi secara detail pada karyawan mengenai bahaya silika dan usaha mencegahnya, sesuai sama yang tercantum pada MSDS.

Janganlah Meremehkan Debu Silika

Silika yaitu kombinasi mineral yang terbagi dalam satu atom Silikon (Si) dan dua atom oksigen (O).
Oksigen (O2) adalah elemen yang paling banyak didapati dipermukaan bumi ini sedang Silikon (Si) adalah elemen nomer dua paling banyak di permukaan bumi ini, dengan jumlah yang begitu banyak di permukaan bumi ini jadikan silika umum didapati dimana-mana.
Jika Silika tersusun dengan jenis yang sama akan membuat Kristal Silika (Crystalyne Silica), dengan nama yang tidak sama seperti Quartz, cristobalite, tridymite, dan lain-lain.



SILIKOSIS

Seseorang yang bekerja dengan debu silika bisa terkena penyakit yang dimaksud silikosis. Silikosis bisa dihindari tetapi jika sudah terkena penyakit itu tidak bisa sembuh.

Ukuran partikel (debu) yang masuk kedalam paru-paru akan memastikan letak penempelan atau ingindapan partikel itu sesuai sama ukuran seperti berikut :
a. Partikel yang memiliki ukuran kurang dari 5 mikron akan tertahan di saluran nafas bagian atas,.
b. Partikel memiliki ukuran 3 hingga 5 mikron akan tertahan pada saluran pernafasan bagian tengah.
c. Partikel yang memiliki ukuran lebih kecil, 1 hingga 3 mikron, akan masuk kedalam kantung hawa paru-paru, melekat pada alveoli.
d. Partikel yang lebih kecil lagi, kurang dari 1 mikron, akan turut keluar saat nafas dihembuskan

Pekerja yang memiliki resiko terkena debu silika yaitu untuk kegiatan sebegai tersebut :
Manufaktur :
• Metal casting
• Glass products
• Keramik, tanah liat, dan tembikar
• Material Aspal/paving
• Cut stone and stone products
• Produksi cat dan karet

Konstruksi
• Pengeboran, Pemecahan, pemotongan Batu Alam
• Sand blasting
• Demolisi concrete

Silikosis berlangsung saat bernafas, debu silika dengan ukuran partikel yang begitu kecil masuk dalam dan terjebak dalam paru-paru yang menyebabkan rusaknya jaringan badan, yang menyebabkan jaringan paru paru luka dari ukuran kecil jadi bulat yang di kenal dengan nodule, semaikn lama nodule akan tumbuh makin besar dan banyak yang menyebabkan kita susah bernafas.

Tanda-tanda silikosis tampak dalam periode waktu 5 ~ 10 tahun
Pekerja terkena debu silika dalam jumlah tengah Akut

UPAYA PENCEGAHAN SILIKOSIS
Penyakit Silikosis tidak bisa sembuh, namun bisa dihindari dengan lakukan usaha sebagai
tersebut :

Subtitusi
Ubah material lain yg tidak memiliki kandungan kristalin silika yaitu cara paling baik untuk menyingkirkan bahaya

Dust Containment system
Cara lain untuk menyingkirkan bahaya yaitu dengan menempatkan system penampung debu seperti bag filter, dust collector, dan lain-lain.

Cara Basah
Untuk pekerjaan pemotongan brick/batu tahan api yang bisa menyebabkan debu silika pakai dengan cara basah, basahi cutting wheel dan media yang dipotong dengan air untuk kurangi paparan debu di ruang kerja.

Ventilasi
Gunakan local exhaust ventilation supaya ruang kerja terlepas dari paparan debu

Alat Pelindung Diri
Alat pelindung diri seperti respirator, sesungguhnya tak menyingkirkan bahaya namun hanya melindungi pekerja dari paparan debu silika, yakinkan APD yang dipakai telah seusuai dengan paparan debu silika yang ada dan cara memakainya mesti sesuai sama panduan pemasangannya. Respirator, seragam kerja, helm safety, sepatu safety, kaca mata safety adalah pelindung yang wajib di gunakan sebelum memulai pekerjaan.

Pengukuran Ruang Kerja
Pengukuran ruang kerja yaitu cara untuk mengevaluasi paparan debu di ruang kerja yang bisa dipakai sebagai tips untuk memastikan tindak lanjut perbaikan yang perlu dikerjakan, termasuk juga kontrol kesehatan pada pekerja yang terpapar

Pemerikasaan Kesehatan Berkala
Kerjakan pemerikasaan kesehatan berkala spesial untuk pekerja yang terkena debu di ruang kerjanya, jika ada tanda-tanda silicosis perputaran pekerja tersebut di ruang kerja yang memiliki kandungan debu silika sebagai usaha mencegah penyakit akibat kerja.

Personal Higiene
Sebagai usaha mencegah silicosis yang masuk lewat mulut dan kulit, bersihkan tangan dengan bersih sebelumnya makan dan minum, janganlah merokok di ruang yang ada paparan debu silika.

Sosialisasi
Kerjakan sosialisasi secara detail pada karyawan mengenai bahaya silika dan usaha mencegahnya, sesuai sama yang tercantum pada MSDS.


Resultado de imagem para BEDA JENIS PEKERJAAN, BEDA JENIS SAFETY SHOES

Kurangnya info yang mengedar mengenai Safety Shoes (Sepatu Pengaman), membuat beberapa orang menyama-ratakan manfaat Safety Shoes untuk semuanya jenis pekerjaan. Walau sebenarnya lain jenis pekerjaan, memerlukan Safety Shoes yang tidak sama juga.


Supaya Anda lebih mengerti beberapa jenis Sepatu Safety dan manfaatnya, di bawah ini saya infokan jenis Safety Shoes yang mengedar sekarang ini :

1. SAFETY TOED SHOES :
Adalah jenis Safety Shoes paling umum dan banyak di jual. Sepatu ini mempunyai pelindung di ujung depan sepatu. Manfaatnya yaitu membuat perlindungan jari kaki dari kecelakaan kerja. Sepatu pengaman jenis ini umumnya digunakna untuk pekerja yang bekerja di pabrik, terlebih pabrik produksi material berat.

2. STEEL INSOLE SHOES :
Yaitu jenis sepatu pelindung yang menyisipkan besi/baja ringan manfaat menstabilisasi gerakan dan melindungi kaki pemakainya dari resiko terkilir atau masalah pada tulang kaki. Umumnya sepatu ini dipakai untuk beberapa orang yang bekerja memakai manfaat kaki, seperti mengendarai sepeda motor, menghimpit pedal, atau mengendarai truk/container.

3. METAL INSTEP FOOTWEAR :
Jenis sepatu pelindung ini memakai besi/baja ringan di sol bagian dalam. Maksudnya yaitu membuat perlindungan pemakai dari luka akibat mencapai benda-benda tajam seperti paku, pecahan kaca, dan benda besi tajam lain. Sepatu ini umumnya diunakan oleh beberapa pekerja yang bekerja di pabrik industri barang besar dan banyak terkait dengan benda tajam, seperti pabrik kaca, senjata, produksi baja, dan sebagainya.

4. METATARSAL SHOES :
Sepatu ini yaitu sepatu pengaman spesial yang didesain membuat perlindungan bagian atas kaki. Sepatu itu betujuan membuat perlindungan pemakai jika tertimpa benda berat. Juga dikenal dengan arti " Drop Hazaard ", sepatu pengaman ini umum dipakai oleh pekerja konstruksi bangunan (kontraktor) atau pekerja yang pekerjaannya terkait dengan mengangkut barang berat/mesin.

5. ELECTRIC HAZARD SHOES :
Jenis ini yaitu sepatu pelindung yang bisa melindungi pemakai dari sengata listrik atau konslet, Sepatu pengaman ini menggunkan sol spesial yang bisa melindungi beberapa pekerja yang bekerja di beberapa tempat yang memiliki kandungan aliran listrik tinggi yang punya potensi menyengat sang pekerja. Sesuai sama manfaatnya, sepatu ini dipakai untuk beberapa pekerja yang bekerja yang bekerja di PLN, PLTU, atau tempat kerja lain yang terkait dengan tegangan listrik tinggi.

6. HEAT RESISTANT SHOES :
Sepatu ini dipakai membuat perlindungan kaki beberapa pemakai dari terbakar saat ada ditempat berlantai panas atau terbakar. Sepatu jenis ini memakai sol spesial yang tahan api dengan tingkat leleh tinggi (kian lebih 300 derajat Celsius). Karena manfaatnya ini, sepatu ini banyak digunakan oleh Pemadam Kebakaran dan ditempat penambangan mineral.

BEDA JENIS PEKERJAAN, BEDA JENIS SAFETY SHOES


Resultado de imagem para BEDA JENIS PEKERJAAN, BEDA JENIS SAFETY SHOES

Kurangnya info yang mengedar mengenai Safety Shoes (Sepatu Pengaman), membuat beberapa orang menyama-ratakan manfaat Safety Shoes untuk semuanya jenis pekerjaan. Walau sebenarnya lain jenis pekerjaan, memerlukan Safety Shoes yang tidak sama juga.


Supaya Anda lebih mengerti beberapa jenis Sepatu Safety dan manfaatnya, di bawah ini saya infokan jenis Safety Shoes yang mengedar sekarang ini :

1. SAFETY TOED SHOES :
Adalah jenis Safety Shoes paling umum dan banyak di jual. Sepatu ini mempunyai pelindung di ujung depan sepatu. Manfaatnya yaitu membuat perlindungan jari kaki dari kecelakaan kerja. Sepatu pengaman jenis ini umumnya digunakna untuk pekerja yang bekerja di pabrik, terlebih pabrik produksi material berat.

2. STEEL INSOLE SHOES :
Yaitu jenis sepatu pelindung yang menyisipkan besi/baja ringan manfaat menstabilisasi gerakan dan melindungi kaki pemakainya dari resiko terkilir atau masalah pada tulang kaki. Umumnya sepatu ini dipakai untuk beberapa orang yang bekerja memakai manfaat kaki, seperti mengendarai sepeda motor, menghimpit pedal, atau mengendarai truk/container.

3. METAL INSTEP FOOTWEAR :
Jenis sepatu pelindung ini memakai besi/baja ringan di sol bagian dalam. Maksudnya yaitu membuat perlindungan pemakai dari luka akibat mencapai benda-benda tajam seperti paku, pecahan kaca, dan benda besi tajam lain. Sepatu ini umumnya diunakan oleh beberapa pekerja yang bekerja di pabrik industri barang besar dan banyak terkait dengan benda tajam, seperti pabrik kaca, senjata, produksi baja, dan sebagainya.

4. METATARSAL SHOES :
Sepatu ini yaitu sepatu pengaman spesial yang didesain membuat perlindungan bagian atas kaki. Sepatu itu betujuan membuat perlindungan pemakai jika tertimpa benda berat. Juga dikenal dengan arti " Drop Hazaard ", sepatu pengaman ini umum dipakai oleh pekerja konstruksi bangunan (kontraktor) atau pekerja yang pekerjaannya terkait dengan mengangkut barang berat/mesin.

5. ELECTRIC HAZARD SHOES :
Jenis ini yaitu sepatu pelindung yang bisa melindungi pemakai dari sengata listrik atau konslet, Sepatu pengaman ini menggunkan sol spesial yang bisa melindungi beberapa pekerja yang bekerja di beberapa tempat yang memiliki kandungan aliran listrik tinggi yang punya potensi menyengat sang pekerja. Sesuai sama manfaatnya, sepatu ini dipakai untuk beberapa pekerja yang bekerja yang bekerja di PLN, PLTU, atau tempat kerja lain yang terkait dengan tegangan listrik tinggi.

6. HEAT RESISTANT SHOES :
Sepatu ini dipakai membuat perlindungan kaki beberapa pemakai dari terbakar saat ada ditempat berlantai panas atau terbakar. Sepatu jenis ini memakai sol spesial yang tahan api dengan tingkat leleh tinggi (kian lebih 300 derajat Celsius). Karena manfaatnya ini, sepatu ini banyak digunakan oleh Pemadam Kebakaran dan ditempat penambangan mineral.



Safety Leadership: 3 Hal Pemimpin Lakukan untuk Membuat Strategi Keamanan yang Baik

"Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menerjemahkan visi menjadi kenyataan." Menerjemahkan visi keamanan menjadi realitas di mana terus mengurangi eksposur nilai organisasi adalah ujian sejati kepemimpinan. Ini adalah usaha yang besar untuk seluruh tim eksekutif. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk mengatur panggung untuk kolaborasi lintas-fungsional dan fokus pada bidang-bidang kritis dan perilaku penting untuk budaya yang mendukung perbaikan terus-menerus.

Strategi itu sendiri hanyalah sebuah rencana untuk mendapatkan akhir yang diinginkan. strategi yang dikembangkan menentukan taktik, kegiatan sehari-hari dan keputusan yang akan membantu mencapai keadaan akhir. Tidak berarti mudah. Keberhasilan atau kegagalan tergantung pada tindakan para pemimpin yang mengaturnya. Karena setiap situasi berbeda, kita melihat para pemimpin keamanan berhasil melakukan hal berikut:

1. Mengartikulasikan gambaran besar. Sebagai pemimpin, kita cenderung untuk melompat ke dalam tindakan - itu bagian dari DNA. Tapi orientasi tindakan ini dapat menyakitkan jika kita fokus pada "perbaikan cepat" atau disiplin tertentu (keterlibatan karyawan atau manajemen data sistem) atau hasil tertentu (tingkat cedera). Untuk pengembangan strategi yang efektif, pemimpin harus melangkah mundur dan memahami sifat multidimensi keselamatan dan mengartikulasikan bagaimana berbagai disiplin ilmu dan sistem manajemen berinteraksi satu sama lain. Mampu melihat dan fokus pada konteks di samping bagian-bagian individu (misalnya, bagaimana budaya mempengaruhi proses keselamatan, atau bagaimana data manajemen, system keamanan yang memungkinkan) sangat penting untuk membuat rencana strategis yang akan menghasilkan konsisten, komprehensif hasil.

2. Rencana untuk hambatan - dan kekuatan. Pelaksanaan strategi tergantung pada keberhasilan menavigasi formal dan informal "aturan" dan cara kerja yang benar-benar menentukan apa yang dilakukan. Pemimpin yang sukses membantu tim mereka menjawab pertanyaan: "Apa yang akan membantu kita dan apa yang akan merugikan kita dalam mencapai tujuan?" Menjawab pertanyaan tersebut mungkin memerlukan sumber informasi baru dan jalan baru untuk perubahan. Dalam beberapa organisasi data keselamatan dan analisis yang tersedia mungkin tidak memadai untuk memahami risiko peristiwa bencana atau cedera mengubah hidup. Ketahui apa yang harus Anda kerjakan membantu Anda pada setiap strategi dengan harapan yang realistis untuk apa yang dibutuhkan dalam waktu dan sumber daya. kekuatan unik masing-masing organisasi (dan hambatan) menentukan pilar strategi keselamatan mereka.

3. Mendefinisikan ekspektasi yang jelas. Strategi merupakan hal khusus untuk organisasi, strategi yang efektif mencakup tujuan yang jelas untuk setiap elemen. Tujuan ini mencapai visi perbaikan keselamatan. Pemimpin yang sukses membantu setiap orang melihat koneksi dan membuat mereka berarti. Para pemimpin memastikan karyawan dan mitra bisnis melihat nilai dari pendukung bagian mereka dari rencana strategis. Hal ini sering membantu untuk memiliki dukungan dari SDM dan komunikasi perusahaan untuk konsisten dan jelas memperkuat pesan yang tepat dengan menyorot awal dan keberhasilan yang berarti.

Mengasah kemampuan pribadi Anda untuk mempengaruhi, terlibat dan menginspirasi orang lain akan mewujudkan visi Anda untuk sebuah organisasi yang menunjukkan nilai untuk kehidupan manusia dalam cara melakukan bisnis setiap hari.



Safety Leadership



Safety Leadership: 3 Hal Pemimpin Lakukan untuk Membuat Strategi Keamanan yang Baik

"Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menerjemahkan visi menjadi kenyataan." Menerjemahkan visi keamanan menjadi realitas di mana terus mengurangi eksposur nilai organisasi adalah ujian sejati kepemimpinan. Ini adalah usaha yang besar untuk seluruh tim eksekutif. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk mengatur panggung untuk kolaborasi lintas-fungsional dan fokus pada bidang-bidang kritis dan perilaku penting untuk budaya yang mendukung perbaikan terus-menerus.

Strategi itu sendiri hanyalah sebuah rencana untuk mendapatkan akhir yang diinginkan. strategi yang dikembangkan menentukan taktik, kegiatan sehari-hari dan keputusan yang akan membantu mencapai keadaan akhir. Tidak berarti mudah. Keberhasilan atau kegagalan tergantung pada tindakan para pemimpin yang mengaturnya. Karena setiap situasi berbeda, kita melihat para pemimpin keamanan berhasil melakukan hal berikut:

1. Mengartikulasikan gambaran besar. Sebagai pemimpin, kita cenderung untuk melompat ke dalam tindakan - itu bagian dari DNA. Tapi orientasi tindakan ini dapat menyakitkan jika kita fokus pada "perbaikan cepat" atau disiplin tertentu (keterlibatan karyawan atau manajemen data sistem) atau hasil tertentu (tingkat cedera). Untuk pengembangan strategi yang efektif, pemimpin harus melangkah mundur dan memahami sifat multidimensi keselamatan dan mengartikulasikan bagaimana berbagai disiplin ilmu dan sistem manajemen berinteraksi satu sama lain. Mampu melihat dan fokus pada konteks di samping bagian-bagian individu (misalnya, bagaimana budaya mempengaruhi proses keselamatan, atau bagaimana data manajemen, system keamanan yang memungkinkan) sangat penting untuk membuat rencana strategis yang akan menghasilkan konsisten, komprehensif hasil.

2. Rencana untuk hambatan - dan kekuatan. Pelaksanaan strategi tergantung pada keberhasilan menavigasi formal dan informal "aturan" dan cara kerja yang benar-benar menentukan apa yang dilakukan. Pemimpin yang sukses membantu tim mereka menjawab pertanyaan: "Apa yang akan membantu kita dan apa yang akan merugikan kita dalam mencapai tujuan?" Menjawab pertanyaan tersebut mungkin memerlukan sumber informasi baru dan jalan baru untuk perubahan. Dalam beberapa organisasi data keselamatan dan analisis yang tersedia mungkin tidak memadai untuk memahami risiko peristiwa bencana atau cedera mengubah hidup. Ketahui apa yang harus Anda kerjakan membantu Anda pada setiap strategi dengan harapan yang realistis untuk apa yang dibutuhkan dalam waktu dan sumber daya. kekuatan unik masing-masing organisasi (dan hambatan) menentukan pilar strategi keselamatan mereka.

3. Mendefinisikan ekspektasi yang jelas. Strategi merupakan hal khusus untuk organisasi, strategi yang efektif mencakup tujuan yang jelas untuk setiap elemen. Tujuan ini mencapai visi perbaikan keselamatan. Pemimpin yang sukses membantu setiap orang melihat koneksi dan membuat mereka berarti. Para pemimpin memastikan karyawan dan mitra bisnis melihat nilai dari pendukung bagian mereka dari rencana strategis. Hal ini sering membantu untuk memiliki dukungan dari SDM dan komunikasi perusahaan untuk konsisten dan jelas memperkuat pesan yang tepat dengan menyorot awal dan keberhasilan yang berarti.

Mengasah kemampuan pribadi Anda untuk mempengaruhi, terlibat dan menginspirasi orang lain akan mewujudkan visi Anda untuk sebuah organisasi yang menunjukkan nilai untuk kehidupan manusia dalam cara melakukan bisnis setiap hari.







1. Perlindungan Metatarsal

Cedera metatarsal yang menyakitkan memerlukan proses pemulihan yang lama. Sepatu baja toe tidak memberikan perlindungan kepada metatarsal, jadi disarankan memilih boot yang melindungi daerah ini dari kaki. Beberapa sepatu menggabungkan perlindungan fitur seperti perisai yang menghamparkan kaki komposit dan berjalan ke atas punggung kaki. Ini memberikan perlindungan pada kaki Anda.

2. Composite Safety Toe

Meskipun sebagian besar sepatu dengan kaki keselamatan komposit memberikan keamanan, pilihlah merek yang memenuhi atau melebihi standar untuk dampak, kompresi dan bahaya listrik. Datang pada sebagian kecil dari berat badan, yakin opsi boot kerja memberikan perlindungan tanpa membebani bagian bawah pemakainya.

3. Electrical Hazard Compliance

Selalu ada kesempatan terkena paparan arus listrik dalam pekerjaan kereta api, carilah sepatu yang memenuhi CSA standar dengan menyediakan perlindungan dari arus listrik yang terbuka hingga 18.000 volt.

4. Outsole Offerings

Outsole tidak boleh diabaikan. Sebuah outsole yang baik dapat memberikan ketahanan yang sangat baik terhadap panas, bahan kimia, minyak, gas, dan tergelincir. Ketika dihadapkan dengan suhu ekstrim atau tidak aman, permukaan licin, outsole kokoh yang menawarkan fitur mencengkeram dapat menjadi penyelamat. Selain menawarkan perlindungan di tempat kerja, pertimbangkan produk berteknologi maju yang memberikan kenyamanan dan kemudahan jangka panjang, hari kerja yang melelahkan, yang dapat mencakup: Fleksibel, sol empuk untuk kenyamanan.


Dual-density busa untuk stabilisasi, sementara masih memungkinkan kebebasan untuk bergerak pada konstruksi tahan air yang menjamin kaki tetap kering tidak peduli bagaimana kondisi cuacanya. Terakhir, boot yang pas dapat menguntungkan Anda. Ambil tiga hal ini menjadi pertimbangan saat berbelanja sepatu safety:

1. Instep

Punggung kaki harus sesuai dan nyaman, tapi tidak ketat. Jika punggung kaki terlalu longgar, Anda akan mengalami tergelincir di bagian tumit. Jika terlalu ketat, bisa menyebabkan tumit dan nyeri kaki. Pertimbangkan berbagai lebar sebagai pilihan untuk punggung kaki yang pas dan sempurna.

2. Ball

Mata kaki Anda harus beristirahat pada bola boot. Jika terlalu pendek, mata kaki Anda akan duduk terlalu jauh ke depan dan memaksa jari-jari kaki ke dalam kotak kaki, sehingga menyebabkan rasa sakit.

3. Heel

Anda mungkin mengalami sedikit selip di bagian tumit dengan sepasang sepatu bot. Namun, saat Anda istirahat, sepatu akan melentur, dengan waktu, Anda akan melihat sebagian besar selip akan hilang.



Tips Memilih Safety Shoes




1. Perlindungan Metatarsal

Cedera metatarsal yang menyakitkan memerlukan proses pemulihan yang lama. Sepatu baja toe tidak memberikan perlindungan kepada metatarsal, jadi disarankan memilih boot yang melindungi daerah ini dari kaki. Beberapa sepatu menggabungkan perlindungan fitur seperti perisai yang menghamparkan kaki komposit dan berjalan ke atas punggung kaki. Ini memberikan perlindungan pada kaki Anda.

2. Composite Safety Toe

Meskipun sebagian besar sepatu dengan kaki keselamatan komposit memberikan keamanan, pilihlah merek yang memenuhi atau melebihi standar untuk dampak, kompresi dan bahaya listrik. Datang pada sebagian kecil dari berat badan, yakin opsi boot kerja memberikan perlindungan tanpa membebani bagian bawah pemakainya.

3. Electrical Hazard Compliance

Selalu ada kesempatan terkena paparan arus listrik dalam pekerjaan kereta api, carilah sepatu yang memenuhi CSA standar dengan menyediakan perlindungan dari arus listrik yang terbuka hingga 18.000 volt.

4. Outsole Offerings

Outsole tidak boleh diabaikan. Sebuah outsole yang baik dapat memberikan ketahanan yang sangat baik terhadap panas, bahan kimia, minyak, gas, dan tergelincir. Ketika dihadapkan dengan suhu ekstrim atau tidak aman, permukaan licin, outsole kokoh yang menawarkan fitur mencengkeram dapat menjadi penyelamat. Selain menawarkan perlindungan di tempat kerja, pertimbangkan produk berteknologi maju yang memberikan kenyamanan dan kemudahan jangka panjang, hari kerja yang melelahkan, yang dapat mencakup: Fleksibel, sol empuk untuk kenyamanan.


Dual-density busa untuk stabilisasi, sementara masih memungkinkan kebebasan untuk bergerak pada konstruksi tahan air yang menjamin kaki tetap kering tidak peduli bagaimana kondisi cuacanya. Terakhir, boot yang pas dapat menguntungkan Anda. Ambil tiga hal ini menjadi pertimbangan saat berbelanja sepatu safety:

1. Instep

Punggung kaki harus sesuai dan nyaman, tapi tidak ketat. Jika punggung kaki terlalu longgar, Anda akan mengalami tergelincir di bagian tumit. Jika terlalu ketat, bisa menyebabkan tumit dan nyeri kaki. Pertimbangkan berbagai lebar sebagai pilihan untuk punggung kaki yang pas dan sempurna.

2. Ball

Mata kaki Anda harus beristirahat pada bola boot. Jika terlalu pendek, mata kaki Anda akan duduk terlalu jauh ke depan dan memaksa jari-jari kaki ke dalam kotak kaki, sehingga menyebabkan rasa sakit.

3. Heel

Anda mungkin mengalami sedikit selip di bagian tumit dengan sepasang sepatu bot. Namun, saat Anda istirahat, sepatu akan melentur, dengan waktu, Anda akan melihat sebagian besar selip akan hilang.






Upper
Upper sepatu adalah bagian sepatu yang terdapat di bagian sisi atas, mulai dari ujung depan sepatu, sisi kanan dan kiri, bagian lidah (tongue) sampai dengan bagian belakang. Karakteristik dari upper biasanya berbahan dasar kain sintetic atau pun kulit (leather) yang telah dirakit dengan jahitan (stitching process)



Bottom
Bagian bottom dari sepatu adalah bagian alas atau bagian bawah dari sepatu. Biasanya orang menyebut bagian sole. Bottom terdiri dari insole, midsole dan outsole. Dan ada juga yang menggunakan bahan Pu-Puck (Polyurethane).



Dalam proses produksi sepatu ada beberapa macam proses kerja yang harus dilakukan, diantaranya adalah :

1. Cutting Process
2. Stitching/Sewing Process
3. Stockfit Process
4. Assembling Process
5. Finishing

Cutting Proses
Cutting process adalah proses pemotongan bahan baku sebelum dibentuk menjadi upper sepatu. Bahan baku yang berupa kain atau pun kulit (leather) dipotong membentuk pola-pola yang telah ditentukan sebelumnya. Peralatan yang diperlukan dalam proses ini menggunakan mesin potong (cutting

machine) dan alat potong yang disebut dengan cutting dies yang bentuk dan ukurannya telah dibuat sesuai dengan pola-pola potongan yang akan dikerjakan.

Stitching/Sewing
Pada proses ini pola-pola bahan baku yang telah dipotong di cutting process kemudian dijahit yang kemudian dibentuk menjadi upper sepatu. Dalam proses penjahitan ini sangat banyak membutuhkan waktu dalam pengerjaannya. Hal ini dikarenakan tinginya tingkat kesulitan dalam menjahit dan juga butuh ketelitian yang sangat tinggi. Potongan pola dijahit satu persatu sehingga membentuk upper sepatu yang selanjutnya disatukan di proses perakitan.

Stocfiting
Proses ini adalah merupakan proses kerja yang menggabungkan bagian-bagian dari bottom sepatu, yaitu antara midsole dan outsole sampai terbentuk menjadi bottom sepatu. Midsole yang berbahan dasar phylon akan digabungkan dengan outsole yang berbahan dasar karet (rubbersole) dengan cara mengelem.



Assembling
Pada bagian inilah perakitan sepatu dikerjakan. Bagian-bagian sepatu yang masih berupa upper dan bottom digabungkan hingga menjadi bentuk sepatu. Bagian upper yang diproduksi dari divisi stitching process sebelumnya dan bagian bottom yang diproduksi di divisi stockfit dirakit dalam proses ini sampai membentuk sepasang sepatu.

Finishing
Divisi ini adalah ujung akhir dari semua proses produksi yang dikerjakan. Sepatu yang sudah berhasil diproduksi dan telah melewati pemeriksaan quality kemudian akan di-packing ke dalam dus karton sepatu yang kemudian disimpan di gudang (warehouse) yang pada akhirnya siap dikirimkan untuk dipasarkan.



Tahapan Membuat Sepatu



Upper
Upper sepatu adalah bagian sepatu yang terdapat di bagian sisi atas, mulai dari ujung depan sepatu, sisi kanan dan kiri, bagian lidah (tongue) sampai dengan bagian belakang. Karakteristik dari upper biasanya berbahan dasar kain sintetic atau pun kulit (leather) yang telah dirakit dengan jahitan (stitching process)



Bottom
Bagian bottom dari sepatu adalah bagian alas atau bagian bawah dari sepatu. Biasanya orang menyebut bagian sole. Bottom terdiri dari insole, midsole dan outsole. Dan ada juga yang menggunakan bahan Pu-Puck (Polyurethane).



Dalam proses produksi sepatu ada beberapa macam proses kerja yang harus dilakukan, diantaranya adalah :

1. Cutting Process
2. Stitching/Sewing Process
3. Stockfit Process
4. Assembling Process
5. Finishing

Cutting Proses
Cutting process adalah proses pemotongan bahan baku sebelum dibentuk menjadi upper sepatu. Bahan baku yang berupa kain atau pun kulit (leather) dipotong membentuk pola-pola yang telah ditentukan sebelumnya. Peralatan yang diperlukan dalam proses ini menggunakan mesin potong (cutting

machine) dan alat potong yang disebut dengan cutting dies yang bentuk dan ukurannya telah dibuat sesuai dengan pola-pola potongan yang akan dikerjakan.

Stitching/Sewing
Pada proses ini pola-pola bahan baku yang telah dipotong di cutting process kemudian dijahit yang kemudian dibentuk menjadi upper sepatu. Dalam proses penjahitan ini sangat banyak membutuhkan waktu dalam pengerjaannya. Hal ini dikarenakan tinginya tingkat kesulitan dalam menjahit dan juga butuh ketelitian yang sangat tinggi. Potongan pola dijahit satu persatu sehingga membentuk upper sepatu yang selanjutnya disatukan di proses perakitan.

Stocfiting
Proses ini adalah merupakan proses kerja yang menggabungkan bagian-bagian dari bottom sepatu, yaitu antara midsole dan outsole sampai terbentuk menjadi bottom sepatu. Midsole yang berbahan dasar phylon akan digabungkan dengan outsole yang berbahan dasar karet (rubbersole) dengan cara mengelem.



Assembling
Pada bagian inilah perakitan sepatu dikerjakan. Bagian-bagian sepatu yang masih berupa upper dan bottom digabungkan hingga menjadi bentuk sepatu. Bagian upper yang diproduksi dari divisi stitching process sebelumnya dan bagian bottom yang diproduksi di divisi stockfit dirakit dalam proses ini sampai membentuk sepasang sepatu.

Finishing
Divisi ini adalah ujung akhir dari semua proses produksi yang dikerjakan. Sepatu yang sudah berhasil diproduksi dan telah melewati pemeriksaan quality kemudian akan di-packing ke dalam dus karton sepatu yang kemudian disimpan di gudang (warehouse) yang pada akhirnya siap dikirimkan untuk dipasarkan.




Popular Posts